Tata Cara Mediasi di Pengadilan Agama Secara Online

tata cara mediasi di pengadilan agama

CaraPedi.com| Mediasi merupakan salah satu tahapan yang harus ditempuh oleh para pihak yang bersengketa dalam perkara perdata di pengadilan, baik dalam perkara perdata umum di Pengadilan Negeri maupun perdata khusus seperti perceraian, sengketa waris, harta gono-gini, hak asuh anak dan lain sebagainya di Pengadilan Agama.

Dikatakan tahapan yang “harus/wajib” dilakukan karena jika Penggugat tidak memiliki iktikad baik dalam mengikuti prosedur mediasi baik itu karena tidak hadir dalam tahapan mediasi yang sudah ditentukan maupun sebab lainnya, maka konsekuensi hukumnya gugatan Penggugat akan dinyatakan Niet Ontvankelijk Verklaard (tidak dapat diterima) sehingga harus mengulangi lagi dari awal dengan mendaftarkan gugatan baru. Sedangkan jika pihak Tergugat yang tidak memiliki iktikad baik, maka Tergugat akan dihukum untuk membayar seluruh biaya mediasi.

Baca juga: Tahapan Persidangan Perceraian

Lalu bagaimana tahapan mediasi di pengadilan sebagaimana diamanahkan oleh Perma nomor 01 tahun 2016 tersebut? simak kronologi dan penjelasan tata cara mediasi di Pengadilan berikut ini:

Tata Cara Mediasi di Pengadilan Agama

  1. Pada saat sidang pertama dimana para pihak (Penggugat dan Tergugat) hadir, maka ketua majelis hakim akan memerintahkan para pihak untuk menempuh upaya mediasi dengan menunjuk salah seorang mediator yang bersertifikat yang terdaftar di Pengadilan tersebut untuk memfasilitasi mediasi para pihak dengan batas waktu maksimal 30 hari. Pada tahap ini, para pihak dapat saja meminta waktu agar lebih singkat karena 30 hari adalah batas maksimal, jadi boleh kurang dari itu.
  2. Setelah ditetapkan, maka mediator yang telah ditunjuk akan menetapkan tanggal mediasi pertama. Pada tahapan ini, ada terdapat perbedaan praktik di pengadilan, ada yang setelah sidang pertama tersebut para pihak langsung pulang dan menunggu panggilan mediasi yang dari mediator, ada juga yang setelah sidang pertama langsung melakukan mediasi pertama. Hal ini karena terdapat perbedaan penafsiran asas berperkara yang cepat, sederhana dan biaya ringan terhadap Perma nomor 01 tahun 2016 yang menghendaki harus dipanggil terlebih dahulu oleh mediator.
  3. Pada tahap mediasi pertama, mediator akan memperkenalkan diri dan memberikan sedikit penjelasan mengenai beberapa istilah dalam mediasi. Setelah itu mediator akan mulai menyusun jadwal mediasi berdasarkan hasil kesepakatan dengan para pihak. Mediasi dapat dilakukan setidaknya 2 kali pertemuan atau yang paling sering 3 sampai 5 kali pertemuan.
  4. Setelah tahap perkenalan dan penjelasan, langkah selanjutnya para pihak akan diberikan formulir berupa resume perkara. Formulir ini terdiri dari dua bagian yaitu duduk perkara dan usulan perdamaian. Duduk perkara menjelaskan bagaimana para pihak menggambarkan masalah yang terjadi menurut masing-masing pihak, sedangkan usulan perdamaian adalah usulan damai menurut masing-masing pihak.
    Dalam proses mediasi dapat dibahas masalah lain yang masih terkait. Sebagai contoh, dalam perkara perceraian, meskipun dalam gugatannya tidak membahas tentang hak asuh anak dan nafkah anak, namun dalam proses mediasi dapat dibahas juga. Atau misalnya jika istri yang digugat, dia bisa meminta nafkah yang timbul akibat adanya perceraian seperti nafkah iddah maupun mut’ah.
  5. Pada jadwal mediasi berikutnya, para pihak diminta untuk menyetorkan resume perkara, lalu akan dimulai pembahasan pokok perkara yang disengketakan. Mediator biasanya akan melakukan Kaukus, yaitu pertemuan salah satu pihak dengan mediator tanpa dihadiri pihak lawan.
  6. Setelah melakukan upaya perundingan, mediasi diakhiri dengan penandatanganan hasil mediasi oleh para pihak dan diketahui oleh mediator. Hasil mediasi terbagi menjadi 3 kategori yaitu:
    • Berhasil. Jika mediasi berhasil secara keseluruhan, maka kesepakatannya dituangkan dalam akta perdamaian yang kemudian dimuat dalam putusan atau bisa juga dengan mencabut gugatan.
    • Berhasil Sebagian. Sebagai contoh, dalam perkara perceraian, gugatan pokoknya yaitu cerai tidak mencapai kesepakatan damai karena para pihak tetap ingin berpisah, namun dalam hal lainnya misal berupa hak asuh anak atau yang lainnya tercapai kesepakatan. Maka pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan, sedangkan hal yang telah disepakati tidak akan diperiksa lagi namun tetap dituangkan dalam putusan.
    • Gagal. Jika mediasi dinyatakan gagal, maka tidak ada satupun yang dapat dicapai kesepakatan damai sehingga persidangan tetap dilanjutkan ke tahap pemeriksaan perkara.

Cara Mediasi di Pengadilan Secara Online

Ketentuan baru yang termuat dalam Perma nomor 01 tahun 2016 tentang Mediasi yang tidak terdapat dalam Perma nomor 01 tahun 2008 adalah pelaksanaan mediasi secara online. Yang dimaksud secara online di sini adalah para pihak tidak harus datang ke kantor Pengadilan, namun sebagai gantinya dapat menggunakan media teleconference (video call) seperti Aplikasi Whatsapp ataupun Aplikasi Skype tentunya setelah melalui kesepakatan para pihak dengan mediator.

Hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat (3) Perma nomor 01 tahun 2018 tentang mediasi:

Pertemuan Mediasi dapat dilakukan melalui media komunikasi audio visual jarak jauh yang memungkinkan semua pihak saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam pertemuan.

Demikianlah penjelasan tentang tata cara prosedur mediasi di Pengadilan Agama secara online. Semoga bermanfaat dan jika Anda menyukai artikel ini, mohon share dengan menekan tombol like atau twit. Terima kasih.

1
Komentar

1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
  Subscribe  
terbaru terlama
Kabari saya jika
Nafi

bagus dibuat artikel bro