Cara Menentukan Kemana Mengajukan Gugatan Cerai

kemana mengajukan gugatan cerai ?

CaraPedi.com| Cara Menentukan Kemana Mengajukan Gugatan Cerai – Pada artikel sebelumnya tentang cara mengajukan gugat cerai oleh suami atau istri, saya mendapatkan banyak pertanyaan kemana mengajukan gugatan cerai yang benar sesuai dengan hukum acara perdata. Meskipun saya sudah menjawabnya di kolom komentar, tapi di kemudian hari muncul lagi pertanyaan yang kurang lebih sama. Oleh karena itulah, pada tulisan kali ini saya akan membahas secara lengkap tentang pengadilan manakah yang lebih berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara Anda.

Kemana Mengajukan Gugatan Cerai?

Pengadilan diberi batasan dalam mengadili sebuah perkara. Hanya perkara-perkara tertentu yang sudah ditetapkan oleh undang-undang saja yang boleh diperiksa dan diadilinya. Nah untuk perkara perceraian, maka kita akan membaginya menjadi dua bagian:

A. Bagi Muslim atau yang Menikah secara Islam tapi murtad.

Pengajuan gugat cerai bagi kelompok yang pertama ini mengacu Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan UU no 3 tahun 2006 dan terakhir dengan UU no 50 tahun 2009.

Pasal 66 (Bagi suami):

  1. Seorang suami yang beragama Islam yang akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak.
  2. Permohonan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman termohon, kecuali apabila termohon dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman yang ditentukan bersama tanpa izin pemohon.
  3. Dalam hal termohon bertempat kediaman di luar negeri, permohonan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman pemohon.
  4. Dalam hal pemohon dan termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Pasal 73 (Bagi istri):

  1. Gugatan perceraian diajukan oleh istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat, kecuali apabila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin tergugat.
  2. Dalam hal penggugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat.
  3. Dalam hal penggugat dan tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

B. Bagi Non Muslim

Bagi non muslim diatur dalam  Peraturan Pemerintah nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Pasal 20 (berlaku bagi suami atau istri):

  1. Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat.
  2. Dalam hal tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tidak diketahui atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman penggugat.
  3. Dalam hal tergugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman penggugat. Ketua Pengadilan menyampaikan permohonan tersebut kepada tergugat melalui Perwakilan Republik Indonesia setempat.

Sesuai KTP atau Tempat Domisili?

Lalu bagaimana jika alamat di KTP berbeda dengan tempat domisili saat ini? haruskah tetap mengajukan di pengadilan yang mewilayahi alamat KTP atau bisa di pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal sekarang? Kasus ini biasanya terjadi jika salah satu pihak pergi meninggalkan tempat kediaman bersama dan biasanya kembali ke rumah orang tuanya yang berada di luar kota.

Dalam hukum acara perdata, setiap pihak baik Penggugat maupun Tergugat harus sudah dipanggil untuk menghadiri persidangan secara resmi dan patut. Jika tidak dipanggil secara patut, maka putusannya bisa batal demi hukum. Oleh karena itu, yang menjadi patokan adalah tempat tinggal para pihak pada saat diajukannya gugatan (alamat de facto), bukan alamat di KTP. Contoh, Andini adalah seorang istri (muslimah) yang ingin mengajukan gugatan cerai kepada suaminya  yang tinggal di Jakarta. Alamat KTP Andini memang di Jakarta tetapi sekarang sudah tinggal bersama orang tuanya di Surabaya, maka Andini bisa mengajukan gugatan cerainya di Pengadilan yang membawahi tempat domisilinya saat ini, yaitu Pengadilan Agama Surabaya dengan mengajukan surat keterangan domisili dari kelurahan setempat.

Demikianlah penjelasan singkat tentang Ke pengadilan manakah seharusnya gugatan cerai diajukan. Semoga membantu. Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, mohon share dengan memberikan like atau twit atau berkomentar di bawah ini agar dapat menjadi referensi bagi teman jejaring sosial Anda. Terima kasih.

Share yuk:
Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

avatar
  Subscribe  
Kabari saya jika